Mediafartner.com.SUNGAI PENUH – Proyek normalisasi Sungai Batang Merao di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh kini tengah menjadi buah bibir masyarakat. Meski menelan anggaran fantastis mencapai miliaran rupiah, hasil pekerjaan di lapangan dinilai jauh dari harapan. Memasuki awal tahun 2026, kondisi sungai justru memperlihatkan pemandangan ironis dengan munculnya “pulau-pulau kecil” di tengah alur sungai.
Berdasarkan pantauan lapangan dan investigasi yang dilakukan oleh awak media serta LSM GERAM – GP2AM, proyek ini dinilai hanya menyentuh bagian tepian sungai saja. Akibat penggalian yang tidak merata dan kurang dalam, endapan material atau sedimentasi di tengah alur tetap menumpuk.
Kondisi ini terlihat sangat jelas pada 31 Januari 2026 di sekitar Jembatan Debai dan lainnya, Saat debit air tidak terlalu tinggi, gundukan pasir dan tanah menyerupai pulau kecil tampak menyembul ke permukaan.
”Kami melihat aliran air tetap terhambat karena endapan utama di tengah tidak dibersihkan secara maksimal. Jika kondisi ini dibiarkan, risiko banjir yang menghantui masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh tidak akan pernah tuntas,” ujar Hendri LSM GERAM – GP2AM dalam keterangannya.
Hingga saat ini, pihak investigasi belum menemukan adanya informasi resmi terkait pemberian sanksi khusus kepada PT Konrak selaku pelaksana proyek. Padahal, secara kasat mata, kualitas pekerjaan tersebut dinilai tidak memenuhi standar kebersihan alur sungai yang seharusnya.
Sesuai dengan UU Jasa Konstruksi, terdapat konsekuensi hukum yang tegas jika kontraktor gagal memenuhi standar kerja, antara lain:
Kewajiban perbaikan pekerjaan.
Ganti rugi atas ketidaksesuaian spesifikasi.
Pencabutan kontrak jika ditemukan wanprestasi.
Tanggung jawab pidana apabila ditemukan unsur penyalahgunaan anggaran atau korupsi.
Kekecewaan warga kian memuncak karena tujuan awal normalisasi untuk mitigasi banjir dianggap gagal tercapai. Masyarakat kini mendesak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI Jambi selaku instansi terkait untuk segera turun ke lapangan guna mengevaluasi hasil pekerjaan secara langsung.
”Kami minta pihak BWSS VI jangan tutup mata. Uang rakyat puluhan miliar habis, tapi sungai masih dangkal dan penuh pulau pasir. Harus ada tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku,” tegas salah seorang warga setempat.
Evaluasi menyeluruh diharapkan dapat segera dilakukan sebelum musim penghujan ekstrem tiba, guna memastikan fungsi Sungai Batang Merao kembali normal dan bebas dari hambatan sedimen. (Red)
