Bau Amis Proyek Normalisasi Batang Merao & Sungai Bungkal, Vendor Jadi Kedok, Volume Diduga Dimanupulasi

Mediafartner.com.KERINCI/SUNGAI PENUH – Proyek Normalisasi Batang Merao dan Sungai Bungkal yang digarap oleh PT Wijaya Karya (WIKA) kini menjadi pusat perhatian publik. Proyek yang seharusnya bertujuan untuk mitigasi banjir tersebut diterpa isu miring terkait dugaan manipulasi volume pekerjaan, ketidakjelasan peran vendor, hingga kualitas fisik bangunan yang dianggap jauh dari standar spesifikasi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, muncul dugaan kuat adanya permainan volume pekerjaan yang dapat merugikan keuangan negara. Hal yang lebih mengejutkan adalah status para vendor yang terlibat. Beberapa nama vendor yang tercatat diduga hanya digunakan sebagai formalitas atau “pinjam bendera”.

Sumber di lapangan menyebutkan bahwa pekerjaan lapangan justru diduga dikendalikan dan dikerjakan langsung oleh oknum staf PT WIKA, sementara vendor-vendor tersebut hanya “tersandung nama” dalam kontrak tanpa keterlibatan operasional yang signifikan.

Disisi lain, Kritik tajam juga mengarah pada titik pekerjaan yang dikelola oleh Vendor Liong dan Vendor Johan. Pantauan di lokasi proyek menunjukkan hasil pekerjaan yang memprihatinkan.

Beberapa poin yang menjadi sorotan di lokasi tersebut antara lain beberapa titik Normalisasi Sungai Batang Merao terlihat longsor dan tidak rapi, yang dikhawatirkan tidak akan bertahan lama saat debit air Batang Merao meningkat.

Belum lagi emahnya pengawasan dari pihak PT WIKA selaku kontraktor utama dan konsultan pengawas disinyalir menjadi penyebab rendahnya mutu pekerjaan ini.

Masyarakat dan pemerhati pembangunan daerah mendesak pihak terkait, termasuk Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatra VI dan aparat penegak hukum, untuk segera turun ke lapangan melakukan audit investigatif.

“Jika benar ada permainan volume dan pengalihan pekerjaan langsung ke staf internal tanpa melibatkan vendor secara profesional, ini sudah menyalahi aturan pengadaan barang dan jasa. Belum lagi kualitas fisik yang asal jadi, ini sangat merugikan masyarakat,” ujar salah satu warga yang memantau lokasi.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT WIKA maupun perwakilan Vendor lainnya belum memberikan pernyataan resmi terkait tudingan tersebut. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *