Mediafartner.com.SUNGAI PENUH – Klarifikasi yang disampaikan berulang kali oleh pihak pengemudi sekaligus pengurus mobil MBG terkait insiden ledakan gas LPG di depan kantor PLN Desa Koto Lolo, Kecamatan Pesisir Bukit, justru memunculkan tanda tanya baru di tengah masyarakat.
Dalam video klarifikasi yang beredar luas di media sosial, pengemudi menegaskan bahwa tidak terjadi kebakaran mobil MBG dan membantah adanya aktivitas melansir gas LPG 3 kilogram. Ia menyebut kejadian tersebut murni akibat tabung gas yang terjatuh dari truk karena tali pengikat putus, yang kemudian memicu api sesaat selama kurang lebih 10 detik.
Namun di sisi lain, rekaman visual yang beredar memperlihatkan kondisi yang dinilai berbeda. Dalam video tersebut tampak mobil MBG dan truk pengangkut gas berada dalam posisi saling berhadapan di pinggir jalur lintas nasional, serta pintu bagian belakang mobil MBG dalam keadaan terbuka saat kejadian berlangsung.
Perbedaan antara narasi yang disampaikan dalam klarifikasi dengan fakta visual tersebut kini menjadi perhatian serius berbagai pihak.
GNPK RI: Ada Ketidaksinkronan yang Perlu Dijelaskan
Sekretaris GNPK RI Kerinci, **Kusnadi**, menilai bahwa klarifikasi yang disampaikan belum sepenuhnya menjawab keseluruhan fakta yang berkembang di lapangan.
“Kami tidak dalam posisi menghakimi ataupun memvonis. Namun, adanya perbedaan antara keterangan yang disampaikan dengan fakta visual di lapangan menimbulkan pertanyaan yang wajar di tengah masyarakat,” ujar Kusnadi.
Menurutnya, klarifikasi yang disampaikan secara berulang, baik secara pribadi maupun di hadapan pihak kepolisian, justru memperlihatkan adanya upaya penegasan narasi yang belum tentu sejalan dengan kondisi faktual yang terekam.
Pertanyaan Publik Menguat
Sejumlah poin kini menjadi sorotan publik dan dinilai perlu dijelaskan secara terbuka, di antaranya:
– Mengapa posisi kendaraan terlihat saling berhadapan di lokasi kejadian?
– Apa alasan pintu belakang mobil MBG dalam kondisi terbuka saat insiden terjadi?
– Apakah benar tidak ada aktivitas distribusi atau pemindahan gas di lokasi?
– Bagaimana standar pengamanan tabung gas hingga dapat terjatuh dan memicu ledakan?
Pertanyaan-pertanyaan ini, menurut Kusnadi, bukanlah bentuk tuduhan, melainkan bagian dari kebutuhan akan kejelasan informasi yang objektif.
Aspek Keselamatan dan Dugaan Kelalaian
Terlepas dari benar atau tidaknya klaim yang disampaikan, GNPK RI menilai bahwa insiden ini tetap menyangkut aspek serius, yakni keselamatan dalam pengangkutan barang berbahaya di ruang publik.
Jika benar terjadi tabung gas jatuh akibat tali pengikat putus, maka hal tersebut berpotensi mengarah pada dugaan kelalaian dalam standar pengamanan distribusi LPG, yang seharusnya memiliki prosedur ketat untuk mencegah risiko terhadap masyarakat.
Apalagi, kejadian tersebut berlangsung di jalur lintas nasional yang memiliki intensitas lalu lintas tinggi.
Dorongan untuk Penelusuran Objektif GNPK RI menegaskan bahwa peristiwa ini tidak cukup diselesaikan melalui klarifikasi sepihak, melainkan perlu dilakukan penelusuran fakta secara menyeluruh oleh aparat penegak hukum.
“Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar pernyataan, tetapi pembuktian yang objektif. Agar tidak terjadi simpang siur informasi dan tidak menimbulkan bias di tengah masyarakat,” tegas Kusnadi.
GNPK RI menyatakan akan terus mengawal perkembangan kasus ini sebagai bagian dari peran kontrol sosial, sembari mendorong aparat untuk melakukan kajian lebih dalam terhadap fakta-fakta yang ada.
“Kami tidak menuduh, tetapi kami juga tidak bisa mengabaikan adanya perbedaan yang terlihat jelas. Di sinilah pentingnya kehadiran negara untuk memastikan kebenaran yang sesungguhnya,” pungkas Kusnadi. (Tim)
